17 Oct 2014 | 23:19
Dikutip dari tulisan Irfan Amalee (dalam, IHEI)
Setahun terakhir ini saya terlibat membantu program Teaching Respect for
All UNESCO. Saya juga membantu sejumlah sekolah agar menjadi sekolah
welas asih (compassionte school). Dua hal di atas membawa saya betemu
dengan sejumlah sekolah, pendidik, hingga aktivis revolusioner dalam
menciptakan pendidikan alternatif. Di benak saya ada satu pertanyaan:
sudah se-compassionate apa sekolah kita? Sejauh mana sekolah menumbuhkan
sikap respect pada siswa dan guru, serta semua unsur di lingkungan
sekolah? Karena compassion (welas asih) dan respect (sikap hormat dan
emphaty) adalah bagian dari adab (akhlak) maka pertanyaannya bisa
sedikit diubah dan terdengar kasar: sudah seber-adab apakah sekolah
kita?
Rekan saya melakukan sebuah experimen yang menarik. Dia berkunjung ke
Sekolah Ciputra, sekolah millik pengusaha Ciputra yang menekankan pada
karakter, leadeship dan entrepreneurship serta memberi pengharagaan pada
keragaman agama dan budaya. Pada kunjungan pertama rekan saya itu
datang dengan baju necis menggunakan mobil pribadi. Di depan gerbang Pak
Satpam langsung menyambut hangat, “Selamat datang, ada yang bisa saya
bantu?” Rekan saya menjawab bahwa dia ingin bertemu dengan kepala
sekolah, tetapi dia belum buat janji. Dengan sopan Pak Satpam berkata,
“Baik, saya akan telepon pak kepala sekolah untuk memastikan apakah bisa
ditemui, bapak silakan duduk, mau minum kopi atau teh?” Pelayanan yang
begitu mengesankan!
Di waktu lain, rekan saya datang lagi, dengan penampilan yang
berbeda. Baju kumal, dengan berjalan kaki. Satpam yang bertugas
memberikan sambutan yang tak beda dengan sebelumnya, diperlihakan duduk
dan diberi minuman. Saat berjalan menuju ruang kepala sekolah, satpam
mengantarkan sambil terus bercerita menjelaskan tentang sekolah,
bangunan, serta cerita lain seolah dia adalah seorang tour guide yang
betul menguasai medan. Bertemu dengan kepala sekolah tak ada birokrasi
rumit dan penuh suasana kehangatan. Padahal rekan saya itu bukan
siapa-siapa, dan datang tanpa janjian sebelumnya.
Melatih satpam menjadi sigap dan waspada adalah hal biasa. Tetapi
menciptakan satpam dengan perangai mengesankan pastilah bukan kerja
semalaman. Pastilah sekolah ini punya komitmen besar untuk menerapkan
karakter luhur bukan hanya di buku teks dan di kelas. Tapi semua wilayah
sekolah, sehingga saat kita masuk ke gerbangnya, kita bisa
merasakannya. Itulah hidden curricullum, culture.
Di kesempatan lain, saya bersama rekan saya itu berkunjung ke sebuah
sekolah Islam yang lumayan elit di sebuah kota besar (saya tidak akan
sebut namanya). Di halaman sekolah terpampang baliho besar bertuliskan,
“The most innovative and creative elementary school” sebuah penghargaan
dari media-media nasional. Dindinging-dinding sekolah dipenuhi foto-foto
siswa yang menjuarai berbagai lomba. Ada dua lemari penuh dengan
piala-piala. Pastilah sekolah ini sekolah luar biasa, gumam saya.
Kami berjalan menuju gerbang sekolah menemui satpam yang bertugas.
Setelah kami mengutarakan tujuan kami ketemu kepala sekolah, satpam itu
dengan posisi tetap duduk menunjuk posisi gerbang dengan hanya
mengatakan satu kalimat, “lewat sana”.
Kami masuk ke sekolah tersebut. Di tangga menuju ruangan kepala
sekolah, ada seorang ibu yang bertugas menjadi front office menghadang
kami dengan pertanyaan, “mau kemana?” dengan wajah tanpa senyum. Saat
tiba di ruangan kepala sekolah, kebetulan sat itu mereka sedang rapat.
Sehingga kami harus menunggu sekitar 45 menit. Selama kami duduk,
berseliweran guru datang dan pergi tanpa ada ada yang menghampiri dan
bertanya, ” ada yang bisa saya bantu?”
Akhirnya kepala sekolah mempersilakan kami unutk masuk ke ruangannya.
Baru ngobrol sebentar, tiba tiba seseorang di luar membuka pintu dan
memasukkan kepalanya menanyakan sesuatu kepada kepala sekolah yang
tengah mengobrol dengan kami. Tak lama dari itu tiba-tiba seorang guru
masuk lagi langsung minta tanda tangan tanpa peduli bahwa kami sedang
mengobrol. Karena kesal, akhirnya kepala sekolah itu mengunci pintu agar
tak ada orang masuk. Dalam obrolan, saya sempat bertanya, apa kelebihan
sekolah ini? Kepala sekolah terlihat berpikir keras selama beberapa
menit sampai akhirnya menjawab,” ini seperti toko serba ada, semua ada”.
Dari jawaban itu saya baru faham, pantas saja satpam sekolah ini tak
punya sense of excelent service, kepala sekolahnya saja tak bisa
menjelaskan apa value preposition sekolahnya.
Kemegahan bangunan, serta berbagai prestasi yang telah diraih,
rasanya menjadi tak ada apa-apanya. Karena bukan itu yang membuat kita
terkesan, melainkan atmosfir sekolah, hidden curricullum, culture.
Perjalanan kami lanjutkan ke sekolah Islam di tengah kampung.
Bangunannya kecil sederhana. Pendiri sekolah ini seorang lulusan STM,
tetapi mengabdikan separuh hidupnya untuk merumuskan dan menerapkan
konsep sekolah kreatif yang dapat memanusiakan manusia. Saat ditanya
tentang sekolahnya, dengan lancar dia menjelaskan konsep sekolah kreatif
yang memberikan keras besar pada kreativitas anak dan guru. Ruang kelas
dibuat tanpa daun pintu. Hanya lubang lubang besar berbentuk kotak,
lingkaran, bulan sabit, bintang. Sehingga ketika guru tidak menarik,
siswa boleh keluar kapan saja. Tak ada seragam sekolah dan buku
pelajaran.
Kami duduk di pelataran sekolah sambil menyaksikan keceriaan
anak-anak yang tengah bermain. Selama kami duduk, ada tiga orang guru
dalam waktu yang berbeda menghampiri menyambut kami dan bertanya, “ada
yang bisa yang saya bantu?”. Saya menangkap semangat melayani para guru
tersebut. Mereka ingin memastikan tak ada tamu yang tak dilayani dengan
baik.
Saat mengamati anak-anak bermain, saya melihat ada seorang anak yang
jatuh dan menangis. Saya menebak bahwa guru akan segera membantu. Tetapi
tebakan saya salah, ternyata dua teman sekelasnya datang menghibur dan
membantunya untuk berdiri dan memapahnya ke kelas. Saya cukup terkesan.
Di sekolah yang sederhana ini saya menangkap aura kebahagiaan dari
siswa dan guru-gurunya. Saya tak perlu tahu kurikulum dan sistemnya,
saya sudah bisa merasakannya. Konsep dan visi pendirinya, ternyata bukan
hanya di kertas. Saya bisa melihat dalam praktik. Itulah hidden
curricullum, culture.
Pada kesempatan lain rekan saya pernah juga terkesan oleh siswa
sekolah internasiona yang kebanyakn siswanya berkebangsaan jepang. Saat
itu rekan saya akan mengisi acara di depan siswa pukul 10 pagi. Setengah
sepuluh aula masih kosong. Tak ada orang tak ada kursi. Lima belas
menit sebelum acara para siswa datang, mengambil kursi lipat dan
meletakkannya dalam posisi barisan yang rapi. Seusai acara, setiap siswa
kembali melipat kursi dan meletakkannya di tempat penyimpanan, hingga
ruangan kembali kosong dan bersih seperti semula. Itulah culture.
Dari cerita di atas, saya semakin tidak tertarik pada prestasi apa
yang diraih sekolah, semegah apa sebuah sekolah. Saya lebih tertarik
bagaimana budaya sekolah dibangun dan diterapkan? Banyak sekolah yang
menginvestasikan begitu banyak waktu dan pikiran untuk menyabet berbagai
penghargaan. Tapi tak banyak yang serius membuat sekolah menjadi
berharga dengan karakter dan budi pekerti. Banyak guru dan pelatih
didatangkan untuk memberikan pembinaan tambahan pada siswa agar dapat
menang lomba. Tapi sedikit sekali pelatihan service excellence untuk
satpam dan karyawan. Dinding sekolah dipenuhi foto-foto siswa yang juara
ini juara itu, tapi jarang sekali foto sesorang siswa dipajang karena
dia melakukan sebuah kebaikan. Kehebatan lebih dihargai daripada
kebaikan. Prestasi lebih berharga dari budi pekerti.
Kita harus segera mengubah sistem pendidikan kita masih berorientasi
pada ta’lim (mengajarkan) menjadi ta’dib (penanaman adab). Dalam konsep
compassionate school, tadib harus diterapkan secara menyeluruh (wholse
school approach) meliputi tiga area, pertama SDM yaitu guru, karyawan,
orangtua, hingga satpam, kedua kurikulum, dan yang ketiga iklim atau
hidden curricullum.
Sebuah sekolah bukanlah pabrik yang melahirkan siswa-siswa pintar.
Tapi sebuah lingkungan yang membuat semua unsur di dalamnya menjadi
lebih ber-adab. Untuk mengukur apakah sebuah sekolah sudah menjadi
compassionate school tak serumit standar ISO. Cobalah berinteraksi
dengan satpam sekolah, amatilah bagaimana guru beriteraksi, siswa
bersikap. Rasakan atmosfirnya. Jika preastasi akademik bisa dilihat di
selembar kertas, budi pekerti hanya bisa kita rasakan.